Selasa, 31 Mei 2022

Konsep Penciptaan Alam


Dunia itu begitu luas. Terdapat banyak sekali parlemen yang harus kita bahas dengan tuntas. Dengan pengetahuan kita yang sedikit terbatas, maka tentu otak kita harus kita asah untuk menjadi cerdas. Kalau kita renungkan dengan pikiran yang sedikit menguras, ada dua bagian di dunia ini yang tak mungkin bisa kita lepas. Yaitu Sang Kholiq yang senantiasa singgah di atas, juga ada makhluq yang dicipta dengan keadaan masing-masing dengan bentuk dan tatanan yang pas. Ma Siwallah merupakan definisi sederhana dari kompleksnya makna kedua yang begitu pantas. Di dalamnya masih bisa dipilah dari yang mati diam tak bergerak dan yang hidup bisa bernafas. Bumi sebagai alas, hujan yang tak henti-hentinya turun dengan deras, dan masih banyak hal lagi yang lain untuk kita perjelas.

Tema menyangkut eksistensi ayat Al-Qur’an dan Hadist yang menyinggung fenomena kealaman, telah menarik perhatian ulama klasik dan kontemporer. Selain ada kesamaan, terdapat pula perbedaan antara kedua macam ulama ini terhadap ayat-ayat kealaman, Dan hal ini dipengaruhi oleh konteks filosofis dan historis modernitas.

Ada sebuah Jurnal yang ditulis oleh Ahmad Atabik yang menjelaskan konsep penciptaan alam. Ini merupakan sebuah teori sekaligus studi komparatif normatif antar agama-agama. Konsep penciptaan alam ini tentu mengandung banyak sekali pandangan antar satu sama lain. Dengan kapasitas otak yang melatar blekangi itu berbeda, maka sudah barang tentu hal ini menjadi polemik dengan berbagai paradigma yang digunakan, apalagi menyangkut perbedaan teologi antar agama berdasarkan kitab suci masing-masing.

Nah, di dalam islam, perlu kita garis bawahi bahwa Al-Qur’an merupakan sumber ajaran agama islam Sebab dari Al-Quranlah diambil segala pokok syariat dan dalil-dalil syar'i yang mencakup seluruh aspek hukum bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia atau di akhirat. Hal ini sesuai dengan firman Allah Surat An Nisa ayat 105:

 

اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُ ۗوَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا

“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat”

Namun, jika kita lihat secara lebih mendalam, ketika Al-Qur’an membicarakan tantang alam semsesta, Al-Qur’an  tidak membahasnya secara detail. Disana hanya dibahas hanya secara mendasar. Karena memang. Al-Qur’an bukanlah kitab kosmologi atau buku-buku ilmu pengetahuan umumnya yang akan mendeskripsikan penciptaan alam semesta secara sistematis. Hal ini juga sangat berkaitan tentang kontroversi keberbedaan argumen dari pihak pro dan kotra di dalam adanya tafsir ilmi sendiri. Perbedaan paradigma yang melatar belakangi, menjadikan kajian tasir ilmi ini semakin seru untuk kita perbincangkan. Alasan di atas merupakan salah satu alasan dari pihak kontra (the rejectionits) termasuk Asy-Syatibi. Hal ini diungkapkan oleh Syaltut, kritikus yang paling getol menolak adanya tafsir ilmi ini dengan salah satu alasannya yaitu, “Al-Qur’an bukan merupakan kitab sains. Sains selalu dinasmis, berubah-ubah, dan tidak tentu. Oleh karena itu, penafsiran saintifik atas Al-Qur’an dapat mengarah kepada berbagai kesalahan.[1]

Tentang penciptaan alam, Al-Quran sedikit sekali bebicara tentang kejadian alam (kosmogoni). Mengenai metafisikan penciptaan, al-Quran hanya mengatakan bahwa alam semesta beserta segala sesuatu yang hendak diciptakan Allah didalamnya tercipta sekedar dengan firman-Nya; “jadilah!” (2:117; 3:47,59; 6;73; 16:40; 19:35; 36:82; 40:68).[2]

Informasi yang kita dapat dari Al-Qur’an tentang penciptaan alam itu terungkap dengan berbagai kata yang digunakan dalam bentuk kata pengungkapan penciptaan alam. Diantara kata tersebut adalah bad’, ja’l, kholq. Dari sana, kita tidak ditemukan pada redaksinya penjelasan yang tegas, apakah alam semesta diciptakan dari materi yang sudah ada atau dari ketiadaan? Jadi ketiga bentuk kata tersebut hanya menjelaskan bahwa Allah pencipta alam semesta tanpa menyebut dari ada dan tiadanya.[3]

Sementara Ibnu Jarir al-Thobari menyinggung bahwa periodesasi atau tahapan penciptaan alam dapat disimak dari hadits Nabi ketika menjawab pertanyaan orang-orang Yahudi yang mendatangi Rasul saw. dan menanyakan perihal penciptaan langit dan bumi. Maka Rasul menjawab bahwa “Allah menciptakan bumi pada hari ahad dan senin, lalu menciptakan gunung-gunung pada hari selasa, lalu di hari rabu allah menciptkan pepohonan, air dan infastuktur bumi, bangunan dan perusakan, pada hari kamis Allah menciptakan langit. Lalu pada hari jum’at Allah menciptakan bintang-bintang, matahari dan malaikat, hingga tersisa tiga masa (sa’at) dari zaman itu, pada masa pertama (al-sâ’ah al-ûla) dari tiga masa tersebut adalah penciptaan ketentuan-ketentuan hidup dan mati, kedua (al-sâ’ah al-tsâniyah) memberikan suatu cobaan terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, ketiga (al-sâ’ah al-tsâlitsah) menciptakan adam dan menempatkannya di surga dan memerintahkan pada iblis untuk bersujud padanya dan mengeluarkan iblis dari surga”. Kemudian orang-orang Yahudi tadi bertanya tentang apa yang dikerjakan Allah selanjutnya, Muhammad menjawab “kemudian Allah bersemanyam dalam arsy”, lantas mereka berkata ‘kamu benar seandaikan kamu sempurnakan lagi (dari cerita)’, mereka menjawab, kemudian (Allah) beristirahat. Dengan ucapan tadi Nabi amat marah, maka turunlah ayat “Dan kami telah menciptakan langit dan bumi dan diantara keduanya selama enam masa tanpa kecapaian. Maka bersabarlah (wahai Muhammad) atas ucapan mereka….” Surat Qof ayat 38-39.[4]

Kemudian proses selanjutnya adalah “pembentangan” alam semesta. Dapat bisa kita bilang, bahwa ruang alam (al-sama’) dan materi (al-ardl) sebelumnya dipisahkan Allah adalah sesuatu yang padu. Jadi alam semesta ketika itu merupakan satu kumpulan. Lalu, alam semesta mengalami proses transisi fase membentuk dukhon. Hal ini terungkap dari pernyataan Surat Fushshilat ayat 11 yang artinya: “kemudian Allah menuju penciptaan ruang alam (alsama’), yang ketika itu penuh embunan (al-dukhon).” Hal ini disebabkan, agar tidak terjadi kekeliruan dalam menangkap maksud kata ‘dukhon’ yang dihubungkan dengan proses penciptaan alam semesta, maka seharusnya kata ini dipahami degan hasil temuan sains yang telah terandalkan kebenarannya secara empiris. Hasil temuan ilmuan mengenai hal ini adalah bahwa suatu ketika dalam penciptaan terjadinya ekspansi yang sangat cepat sehingga timbul “kondensasi” dimana energi berubah menjadi materi. Kata “al-dukhan (embunan)” bukanlah menunjukkan materi asal ruang alam, akan tetapi ia menjelaskan tentang bentuk alam semesta ketika berlangsungnya fase awal penciptaannya.[5]

Dalam al-Quran banyak ayat yang secara eksplisit menyebutkan ruang alam (al-sama’) berjumlah tujuh. Sedangkan al-ardl sebagaimana ruang as sama’ secara implisit disebutkan juga jumlahnya tujuh. Kata ruang al sama’ dalam Al-Qur’an ada yang datang dengan konteks mufrad dan ada pula yang datang dalam bentuk jama’ . Sedangkan kata bumi dalam Al-Qur’an hanya disebutkan dalam bentuk mufrad saja dan tidak pernah muncul dalam konteks jama’. Dalam hal ini Hanafi Ahmad dalam kitabnya, al-tafsir al-ilmi ayat al-kauniyat, menerangkan bahwa hal ini dimaksudkan agar manusia tidak tercengang dan tidak menuntut kepada Rasulullah untuk menunjukkan bumi yang lain. Sedangkan penyebutan al ardh secara implisit berjumlah tujuh, hal ini bukan ditujukan kepada manusia awam, melainkan khusus buat para pakar dan kaum intelektual yang akan dapat mengetahui setelah melakukan penelitian dan penganalisaan. Lain halnya dengan ruang as sama’ berapapun disebutkan jumlahnya, maka manusia tidak akan tercengang dan tidak akan mempersoalkan, karena mereka yang kebanyakannya sederhana dalam berpikir tidak mengerti tentang, dan tidak hidup di al sama’.
Adapun proses penciptaan alam selanjutnya
, yaitu Allah melengkapinya dengan menciptakan hukum-hukum tertentu, yang disebut dengan sunatullah. Hal ini dipahami dari percakapan simbolis antara Allah disatu pihak dan ruang alam dan materi dipihak lain.

Penjelasan di atas adalah merupakan proses singkat tentang pkonsep penciptaan islam. Namun titik poin yang bisa diambil adalah ternyata (menurut saya), tafsir ilmi merupakan sebuah teori yang sangat komprehensif dan tidak bisa langsung kita tolak dengan sepintas. Banyak hal yg bisa kita pelajari dari komparasi sains saat ini yang sangat relevan dengan Al-Qur’an. Jadi, saya tidak mengikuti kritikus Syaltut yang menolak teori ini secara mentah-mentah. Tentu, sebagai mahasiswa, kita harus memiliki keberpihakan terhadap perbedaan dengan memiliki alasan yang kuat sebagai pondasi. Sekian, terima kasih.

 

Setiawan Al-Fadly Putra Imam

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta



[1] Bustami Mohamed Khir, “The Qur’an and Science: the Debate on the Validity of Scientific Interpretation” dalam Journal of Qur’anic Studies, h. 27.

[2] Lihat Fazlur Rohman, Tema Pokok al-Quran, hal 95.

[3] Ibid, hlm. 135

[4] Ibn Jarir al-Thabary, Tarikh al-Thabari, Maktabar al-Tarikh wa al-Hadlarah, hlm. 20 juz I.

[5] Sirajuddin Zar, hlm. 137.

Minggu, 27 Juni 2021

Menggumam Kepada Waktu


“Welcome to Sukorejo.” Apa kalian sudah melihat video dokumenter ini? Pasti sudahlah ya. Video ini menggambarkan suasana BAJA (Balik Jama'ah) yang sempat viral di media sosial beberapa saat yang lalu. Suasana pondok sudah terngiang-ngiang di benak santri ketika kata “balik” bertengger di pelupuk mata. Kalau hati jangan ditanya lagi, antara ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata serta rasa yang tak mungkin terejawantahkan melalui sikap. Tapi gapura kebanggaan pondok pesantren Salafiyah Syafi'iyah sudah siap menyambut para santri. Jika kemarin-kemarinnya kita hanya menonton videonya, sekarang hal itu sudah bertransformasi menjadi realita kehidupan. Pijakan kaki pertama sudah dilalui di bumi seribu berkah yang akan menghadirkan sejuta kisah di dalamnya.

Kondisi kehidupan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun kemarin. Masih dalam momen pandemi covid-19. Meski demikian santri sangat antusias untuk kembali ke pondok tepat waktu. “Mondhuk Entar Ngabdhih Ben Ngajih”. Sebuah pesan dari murobbi yang harus kita jadikan niat utama ketika di pondok. Masa lalu yang selalu menghantui para santri ketika berada di rumah terkadang mengajak nafsu untuk bersedih, dan sering kali hal itu mengundang rasa tidak kerasan. Entah apa yang membuat mereka tidak kerasan. Mungkinkah mereka rindu dengan chattingan atau rindu dengan orang tua. Atau rindu dengan si dia, tapi dia siapa?

Oleh karena itu, jangan sampai niat awal kita balik ke pondok menyimpang hanya karena satu ujian itu. Sadarlah, pada saatnya, kita akan memetik buah dari perjuangan selama berada di pondok. Jangan sampai lantaran tidak kerasan, malah mencari cara untuk kabur dari pondok. Astaghfirullah…. Adegan tidak untuk ditiru!

“Perjuangan itu butuh pengorbanan. Kalau tidak mau berkorban, jangan berjuang!”

Kurang lebih seperti itu kalam K.H.R. As'ad Syamsul Arifin yang harus kita tanamkan dengan mental kokoh. Seperti yang dicontohkan murabbi kita dalam mempertahankan keutuhan negara dari berbagai agresi militer kolonial. Tugas kita saat ini ialah meneladani perjuangan beliau, karena kitalah yang akan melanjutkan itu semua. Salah satunya ialah ikut serta dalam menjaga nama baik pondok pesantren Salafiyah Syafi'iyah dengan berakhlakul karimah pada siapa saja serta tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Sebagai santri, kita tidak boleh minder meski berpenampilan sederhana saat bertemu dengan teman sebaya yang sekolah atau kuliah di luar dan memiliki penampilan modis (fashionable). Namun kemampuan berpikir kita harus mampu bersaing atau bahkan melebihi mereka yang memiliki kebebasan penuh. Kalian juga layak bahagia kawan, tapi tidak untuk sekarang. Hal yang harus kita jalani dengan sungguh-sungguh saat ini adalah mengabdi dengan tulus dan ikhlas, serta mengaji dengan giat dan istikamah. Jangan sampai tugas mulia kita di pondok hanya digunakan untuk bersenang-senang, terlebih lagi melanggar. Ingat! Kalian sedang mengemban amanah penting yang tidak semua orang bisa menjalaninya. Mereka enggak bakal kuat, biar kita saja!

Eh, maaf hampir lupa, dear sahabat-sahabatku santri baru yang datang dengan semangat membara, tapi terkadang rasa tidak kerasan membabi buta, kami ucapkan selamat datang di pondok pesantren Salafiyah Syafi'iyah. Baik yang dari desa, kota, juga yang berasal dari negara tetangga. Hari ini, kalian pasti merasakan sesuatu yang berbeda, hidup jauh dari orang tua, dan rela meninggalkan berbagai kenyamanan yang ada di rumah. Tapi kalian tidak sendiri kawan, kita semua sama, ingat pesan ayah dan bunda sebelum mengantarmu mondok dengan riuh tangis bahagia. Bersyukurlah karena kita ditakdirkan menjadi santri di tengah perkembangan zaman yang makin edan, di mana generasi mudanya sudah makin kolot moral dan akhlaknya karena digerus arus globalisasi.

Oleh karena itu kita dimondokkan dengan harapan bisa menjadi insan yang lebih baik dengan tempaan keilmuan dan budi pekerti. Sungguh beruntung bukan? Kesimpulannya, kalian tidak perlu khawatir akan itu semua, yang paling penting, kalian harus jalani kehidupan dengan baik. Tidak perlu mendengarkan perkataan orang yang tidak suka dengan kalian. Selama itu benar, teruskan saja. Selamat kembali ke pondok dan selamat datang untuk santri baru. Kobarkan semangat kalian demi tercapainya cita-cita yang sehaluan dengan agama dan bangsa.

 

Rahul N Dul, redaktur pelaksana buletin Al-khidmah

Selamat Datang Para Pejuang


"Yang betah ya di pondok. Jaga waktu makannya, jangan sampai telat.” “Iya bund....”

Begitulah kiranya akhir dari sebuah percakapan dua insan yang hendak saling berjauhan. Saliman, pelukan, bahkan tak jarang pula sebuah kecupan seakan sudah menjadi ritual yang wajib dilakukan. Setelah semua ritual selesai, waktu yang tidak ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Ya, sebuah perpisahan. Semua perpisahan tidak ada yang menyenangkan dan pasti menyakitkan, juga memberikan banyak kerinduan. Ia tak memandang kalangan usia, entah itu muda, remaja maupun tua. Tentu semua pernah merasakannya, hanya objeknya saja yang berbeda-beda. Entah itu merindukan keluarga, saudara ataupun si dia. Eh... kok malah merindukan dia, padahal, kan dia sudah sama yang lainnya. Canda lainnya. Haha

Berbicara tentang rindu, sudah pasti tertuju pada santri baru yang tiba di pesantren beberapa minggu lalu. Tidak hanya bagi santri baru, santri lama pun juga banyak yang rindu terhadap ayah dan ibu. Meskipun rindu adalah hal yang lumrah, namun terlena dengan kerinduan merupakan sesuatu yang salah. Bukannya kerasan di pondok, ia malah melamun memikirkan kampung halaman saja. Ia yang seharusnya sudah memiliki banyak teman kini masih saja suka sendirian dan tidak suka keramaian.

Melihat kasus di atas, seharusnya kita bisa naik kelas. Dari yang sebelumnya hanya rebahan sambil berangan-angan, menjadi semangat belajar demi masa depan. Untuk sementara, lupakan dulu semua kenikmatan serta hal-hal yang berbau kesenangan selama di rumah dan mulailah beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan madrasah. Oh iya, hampir lupa. Kami ucapkan welcome everybody! Selamat datang para pejuang yang siap sukses di masa mendatang.

Di awal tahun ajaran baru, kerap terlihat sajian unik dan tingkah menarik. Ada tiga hal menarik yang kerap kali disuguhkan oleh santri baru yang menggelitik, diantaranya. Pertama, menjadikan kunci lemari sebagai kalung, entah karena takut hilang atau malas memegang. Yang pasti banyak sekali santri baru yang mengikuti tren ini sejak dahulu meski tidak diketahui siapa pencetusnya.

Kedua, belum tau cara berwudu, peristiwa ini biasanya terjadi di jeding raksasa. Santri baru yang belum mengerti masalah bersesuci, membuat gelak tawa tersendiri bagi santri lama. Selain karena cara berwudunya yang salah, para santri lama juga merasa sedang bernostalgia dengan masa lalu saat masih menjadi santri baru.

Ketiga, istikamah ke wartel. Nah, ini nih yang bikin santri lama jengkel bin kesel. Bagaimana tidak, setiap kali datang untuk menelepon, selalu saja penuh dengan santri baru yang sedang melepas kerinduan. Tak hanya sehari dua hari, mungkin setiap hari santri baru silih berganti menjajah wartel sampai membuat antrian panjang seperti pembagian sembako. Beda usia, beda juga tingkahnya.

Ada tiga fakta yang sering terjadi bagi santri lama yang sudah puas rasanya menikmati liburan sejenak bersama keluarga. Pertama, tidak kerasan. Aneh tapi nyata. Itulah kalimat yang pas untuk santri lama yang masih saja tidak kerasan, mungkin karena liburan yang kurang lama membuat raganya saja yang ikut BAJA (balik jamaah), sementara pikirannya masih jalan-jalan entah kemana.

Kedua, sok jadi bos. Baru saja satu-dua tahun mondok lagaknya sudah seperti bos. Santri baru pun dijadikan sebagai korban. Suruh sana dan suruh sini seenak jidat, tanpa mempedulikan korban yang lagi rebahan.

Ketiga, bernostalgia bersama. Hal-hal yang sedang ngetren selama liburan dijadikan topik utama. Mengghibah ria pun rasanya tidak ada habis-habisnya. Liburan ramadan yang dirasakan selama lima puluh hari menjadi perbincangan di kamar, musala, bahkan di jalan. Satu hari di rumah, ceritanya bisa satu bulan di pesantren. Ceritanya pun bermacam-macam, mulai dari gagal liburan ke Mataram, sampai yang paling menyakitkan, seperti halnya cuma dianggap temen padahal udah nyaman.

Kalian masih ingat tidak, beberapa hari lalu K.H.R Ach Azaim Ibrahimy pernah berdawuh bahwa santri baru atau yang disingkat SABAR itu memiliki makna tersendiri, yakni sabar untuk berpisah, sabar untuk menyesuaikan diri di pondok dan yang terakhir sabar untuk belajar. Lain lagi dengan santri lama yang memiliki singkatan SALAM, yang dalam bahasa Arab berarti selamat. Ya, selamat dari semua maksiat.

Selain itu santri juga dituntut untuk memperbaiki niat, yaitu niat mengabdi dan mengaji. Karena niat merupakan hal terpenting dalam melakukan suatu perbuatan. Walaupun perpisahan dengan keluarga sering membuat kita resah tapi jangan sampai mengubah niat kita untuk senantiasa berkhidmah. Dulu televisi adalah teman sehari-hari. Akan tetapi setelah menjadi santri, Alquran dan kitab kuning lah yang menjadi konsumsi saat ini. Berterima kasihlah kalian kepada kedua orang tua karena telah memondokkan di salah satu pesantren impian. Karena telah kita ketahui bersama kalau dunia luar sudah semakin liar. Sedikit saja terbawa arus pasti akan terhanyut dan tenggelam di dasar kegelapan.

Meskipun terasa berat untuk meninggalkan kerabat sebab rindu yang yang tak kunjung bertemu, pasti berdamage sekali bagi santri baru. Oleh sebab itu mewakili dari berbagai penjuru negeri baik itu putra maupun putri, saya ucapkan, “Sakit sekali eperibadehh!!!”


Oleh Randi Abdel Azizi, redaktur pelaksana buletin Al-khidmah 

Minggu, 09 Mei 2021

Santri Pengusaha di Bumi Nusantara

 

“Santri saya yang pulang atau berhenti harus ikut mengurusi, memikirkan paling tidak salah satu yang tiga: 1. Pendidikan Islam, 2. Dakwah melalui NU, 3. Ekonomi Masyarakat. Biar alim, biar kaya, tapi tidak ikut salah satu tersebut, saya ingin tahu kesempurnaan hidupnya. Sebaliknya, biar bodoh, biar miskin, tapi turut mengurusi, cawe-cawe, paling tidak salah satunya dengan ikhlas, rasakan sendiri kesempurnaan hidupnya”.

-K.H.R. As’ad Syamsul Arifin- 

Dawuh tersebut seolah mewajibkan setiap santri untuk ikut serta dalam usaha memberdayakan ekonomi umat.

Islam telah mengatur ekonomi umat melalui sistem ekonomi syari’ah. Sistem ini dinilai sebagai solusi dari persoalan model ekonomi kapitalis dan sosialis, si pendahulunya.

Ekonomi kapitalis yang menitikberatkan pada kehendak individu, membuat pemilik modal sangat berkuasa. Sedang ekonomi sosialis yang berpusat pada kuasa pemerintah untuk mengatur segala hal membuat rakyat semakin tertekan dalam bekerja.

Kegelisahan akibat dua sistem ekonomi tersebut, lantas menghadirkan sistem ekonomi syari’ah dengan konsep etika dan berlandaskan hukum agama dalam menjalankan setiap kegiatan perekonomian.

Salah satu potensi ekonomi syari'ah terbesar Indonesia ada pada dunia pesantren dan masyarakatnya. Kemandirian pesantren sejak berabad-abad lalu menunjukkan bahwa pesantren telah memiliki basis ekonominya sendiri. Pesantren, dengan berbagai potensi strategis yang dimilikinya layak menjadi lokomotif ekonomi syari’ah.

Sebenarnya, produk-produk ekonomi syari’ah ialah kekayaan pesantren, yang digali dari fiqh mu’amalah dalam kitab kuning, objek kajian khas pesantren. Seharusnya para santri lebih memahami ekonomi syari’ah dibanding nonsantri, karena sehari-hari mereka bergelut dengan keilmuan syari’ah.

Menilik kembali sejarah, pada tahun 1918, saat Indonesia masih melawan kolonialisme Belanda, seorang ulama pesantren sekaligus aktivis pergerakan nasional, K.H. Wahab Chasbullah bersama saudagar santri lainnya mendirikan sebuah perkumpulan saudagar. Perkumpulan ini dikenal dengan sebutan Nahdlatul Tujjar (Kebangkitan Para Saudagar). 

Nahdlatul Tujjar bertujuan meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat, sekaligus melawan penjajahan dan penindasan kolonialisme Belanda.

Dari masa lalunya tersebut, tak heran bila sebagian besar pesantren mempunyai wadah khusus bagi santri untuk berwirausaha. Bumi Nusantara salah satunya, yang mewadahi para santri pengusaha di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. 

Bumi Nusantara berusaha mencetak kader wirausahawan santri untuk siap memberdayakan ekonomi umat. Sumber daya manusia yang mumpuni, diharapkan mampu menjadi cadangan di masyarakat dalam membumikan ekonomi syari’ah.

Dalam perjalanannya, kegiatan berwirausaha di pesantren mulai menuai larangan. Tak ada yang boleh melakukan segala bentuk jual-beli dengan dalih apapun. Namun, lambat-laun aturan itu dicabut sebab berbagai pertimbangan. Yakni agar tidak membatasi mereka yang memiliki gelora bisnis dalam dirinya, juga mendukung kajian-kajian ekonomi perguruan tinggi.

Selain itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menggaung-gaungkan OPOC (One Pesantren One Product). Hal ini menjadi angin segar bagi santri pengusaha. Mau tidak mau, harus ada solusi dari kecamuk hasrat wirausaha. Oleh karenanya, Bumi Nusantara diharap mampu menjadi obat dan sebagai kesempatan emas untuk mengekspresikan skill pengusaha santri. Dan syukur-syukur bisa menjadi penerus Nahdlatul Tujjar.

Dalam al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 29, Allah berfirman yang artinya; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”. Ayat tersebut mengabarkan bahwa jual-beli ialah solusi untuk interaksi sosial dalam bidang ekonomi.

Rasulallah juga turut menjelaskan tentang perdagangan, “Dari Mu’az bin Jabal, bahwa Rasulallah bersabda, ‘Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha perdagangan yang apabila mereka berbicara tidak berdusta, jika berjanji tidak menyalahi, jika dipercaya tidak khianat, jika membeli tidak mencela produk, jika menjual tidak memuji-muji barang dagangan, jika berhutang tidak melambatkan pembayaran, jika memiliki piutang tidak mempersulit”. 

Hal-hal seperti inilah yang menjadi nilai plus bagi entrepreneur santri, yaitu menjadikan Alquran dan Hadis sebagai rujukan.

Jadi untuk apalagi ragu dalam berwirausa. Menjadi pedagang tidak membuat seseorang menjadi hina, menjadi pengusaha tak membuat orang dipandang remeh. Tengok Rasulallah, beliau seorang pedagang. Pedagang yang sangat dipandang, berkat aspek syari’ah yang diaplikasikannya. Para sahabat juga seorang saudagar kaya raya dari hasil berwirausaha.

Para santri, sudah seharusnya merasa beruntung dengan hadirnya Bumi Nusantara. Sehingga basic berwirausaha tertanam kuat, lalu dipraktekkan, agar mampu mensejahterakan masyarakat di daerahnya masing-masing.

             

Abdul Adim, pimpinan redaksi buletin Al-khidmah 2018-2020

Gambar oleh Rudy and Peter Skitterians dari Pixabay 

 

Selasa, 20 April 2021

Jangan Salah dalam Mahabbah



Konon, cinta adalah segalanya. Cinta adalah elemen kasih sayang. Cinta adalah energi pembangkit kekuatan.

Barangkali, begitulah setidaknya para pujangga mendefinisikan cinta. Namun, inti dari cinta adalah landasan segalanya. Begitulah isi maqolah Syekh Muhammad Sholeh Al-Utsamin: "landasan segala dari maha segala adalah mahabbah".

Bagi para pemuda-pemudi, cinta mungkin merupakan hal primer dalam kamus hidupnya. Entah cinta kepada harta, tahta, ataupun wanita. Namun, tak banyak dari mereka yang terjerumus ke dalam lembah cinta. Sejatinya terjerumus ini bukan karena cintanya. Namun, karena salah dalam memahami mahabbah. Sehingga menjadi wajar jika cinta harta malah berakhir di penjara. Cinta tahta malah membuat diri celaka. Cinta wanita justru membuatnya hamil sebelum waktunya.

Cinta? Apa itu cinta? Di tulisan ini saya bukan hendak mendefinisikan sebuah cinta. Karena saya pun sadar hingga kini belum tahu apa makna cinta. Namun, seenggaknya cinta adalah hal baik dan pasti mempunyai maksud sangat baik. Begitulah kesimpulan dari beberapa artikel yang pernah saya baca.

Oleh Ibnu Qayyim Al-jauziyah, sang pakar cinta, cinta dibagi menjadi empat macam.

Pertama, Mahabbatullah, yaitu cinta kepada Allah.

Cinta kepada Allah adalah hal yang wajib, sebagai bentuk perwujudan dari iman dan mengesakan Allah. Mencintai Allah dengan sebenar-benarnya cinta sungguh sangatlah sulit. Meski banyak dari kita mengaku cinta kepada-Nya, tapi itu tak lebih karena mengikuti orangtua kita yang juga mengaku cinta kepada Allah. Banyak dari para sufi yang telah mencapai maqam ini seperti Syekh Siti Jenar, Syekh Abdul Qadir Jailani, Al-ghazali dan lain-lain. Untuk bisa  mencapai maqam ulama-ulama yang sudah disebutkan tadi, baca sendiri tuh manaqib atau biografi beliau. Hehehe….

Kedua, mencintai apa yang dicintai Allah.

Dari cinta inilah manusia menemukan jalan menuju cahaya Islam dan keluar dari jurang kenonislaman. Begitu setidaknya dawuh dari Ibnu Qayyim. Dalam Alquran, Allah banyak firmankan terkait hal yang kedua ini, salah satunya seperti ayat ini:

وَأَحْسَنُوا أنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

"Berbuat baiklah kamu, karena Allah mencintai mereka yang berbuat baik". Dan pada ayat-ayat lainnya.

Ketiga, cinta karena dan untuk Allah.

Di bagian inilah yang sangat bersentuhan langsung dengan para anak muda. Sehingga muncul jargon "cintai aku karena Allah" wa akhowatiha. Cinta pada bagian ini adalah anak dari cinta pada bagian pertama. Pasalnya, tak mungkin kita cinta kepada sesama karena Allah jika kita tak mencintai Allah. Oleh karenanya menjadi tamancoklah mereka yang menyatakan "cinta karena Allah" namun dirinya sendiri tak mencintai Allah.

Nabi bersabda, yang intinya: tiga hal yang membuat seseorang bakal merasakan manisnya iman. Pertama cinta kepada Allah beserta Rasul-Nya, jauh dari selain Allah dan Rasul. Kedua tidak mencintai seseorang kecuali dia mencintai Allah. Dan ketiga benci kepada kekafiran setelah Allah mengeluarkannya. (HR. Bukhori dan Muslim).

Keempat, mencintai Allah sekaligus mencintai apa yang Allah benci.

Inilah cinta yang dapat menjerumuskan kepada kekufuran. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 165. Lihat sendiri kalau gak percaya. Contoh kecilnya seperti kita mengaku cinta kepada-Nya namun di lain sisi juga cinta kepada selain Allah. Kalau dibawa pada percintaan remaja, kita cinta satu cewek, di lain hal kita juga cinta kepada cewek lain, kan berabe.

Dari beberapa bagian cinta di atas kamu di nomer berapa dan berapa? Hah? Cukup dulu sampai sini karena perutku sudah memberontak supaya segera diberi makan, agar masuk pada bagian ketiga hehehe...


Oleh Musthafa Kamal, Redaktur buletin Al-khidmah 

Tulisan ini pernah tayang di akun Facebook Musthafa Kamal Atthaturk pada 28 mei 2020

Gambar oleh S. Hermann & F. Richter dari Pixabay 

Senin, 05 April 2021

Eksistensi Majas dalam Alquran

 


Sebab Al-Quran adalah karya sastra Tuhan Yang Maha Indah, maka keberadaannya tidaklah dapat dilepaskan dari kesusasteraan bahasa. Terlebih lagi lafadz-lafadz Al-Quran kesemuanya diturunkan dalam berbahasa arab yang pada realitanya kaya akan nilai sastra yang tinggi. Jadi tak heran jika Al-Quran dikatakan sebagai manifestasi karya sastra teragung dalam peradaban manusia. Karena semenjak Al-Quran diturunkan 14 abad silam hingga sekarang tak ada satupun orang yang dapat menciptakan karya tandingannya. Bahkan Tuhan mengadakan tantangan terbuka, kapan-pun dan dimana-pun, untuk seluruh orang yang masih meragukan ke-otentikan Al-Quran agar membuat padanannya; walau hanya satu ayat

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Al-Quran ialah tak bisa dipisahkan dari nilai-nilai satra bahasa arab. Oleh karenanya ia pastinya memiliki unsur-unsur dari bahasa tersebut. Dalam perspektif ilmu bahasa, suatu kalimat adakalanya mengandung unsur majas dan adakalanya tidak. Majas sendiri dapat kita artikan sebagai kalimat kiasan atau perumpamaan. Ambil contoh perkataan” Aku tanpamu sebutir debu”

Dalam makna sejatinya, bukan berarti ‘Aku’ disana merupakan ’butiran debu’ yang berterbangan di udara dan diterpa angin. Bukan. Karena pembicara disana sedang mengumpamakan dirinya dengan sebutir debu yang hina, tak ada nilai manfaatnya serta dihiraukan keberadaanya. Dalam kajian Ushul Fikih hal ini dikenal sebagai Majas Isti’aroh.

Setelah membaca pemaparan diatas, otomatis akan muncul dibenak kita tentang apa arti majas dalam kajian ilmu ini? Lalu seberapa pentingkah eksistensinya dalam kajian istinbat hukum islam?

Imam Taqiyuddin as-Subki mendefinisikan majas sebagai:

"لفظ مستعمل بوضع ثان لعلاقة"

“Lafadz yang digunakan dengan peletakan makna kedua karena adanya ‘alaqoh (penghubung)”

Definisi ini merupakan kebalikan dari hakikat yaitu:

اللفظ المستعمل الذى وضع له ابتداء"”

“Lafadz yang digunakan dengan peletakan makna asal saat pertama kali dicetuskan”

Dari sini dapat dipahami bahwa terjadi perubahan makna asal lafadz yang dibuat pertama kali hingga menjadi makna kedua yang berkesesuaian dengan indikasi yang menyertainya.

Majas sendiri berasal dari akar kata Jawaz yang memiliki memiliki arti melampaui. Oleh karenanya Imam Al-Jurjani mengatakan bahwa majas adalah sesuatu yang melampaui dan keluar dari tempat asalnya menuju tempat lain karena ada kesesuain antara kedua tempat tersebut baik dalam hal bentuk, makna yang dikandung, ataupun kemiripannya.

Misalnya adalah kata Sholat yang memiliki makna asal Doa. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, kata ini digunakan untuk makna baru yang berbeda dari makna pertama kali ketika dibuat. Yaitu sebuah ritual keagamaan yang harus selalu dilakukan umat islam. Penggunakaan kata sholat untuk sebuah ritual adalah majas dan antara makna asal (doa) dan makna baru (ritual) memliki keterkaitan, yakni ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang ada dakam ritual keagamaan merupakan doa dan sebagain bentuk ketuntudukan kita terhadap Alloh. Nah, yang ini biasa disebut Majas Naql.

Mengenai eksistensinya didalam Al-Quran ulama khilaf. Keberadaannya diakui secara mutlak menurut pendapat yang masyhur. Sedang menurut sebagian ulama’ yang lain menolak eksistensi majas dalam teks-tels yurisprudensi islam dengan mutlak. Sebab ditenggarai terdapat unsur kebohongan dalam majas secara dzohir. Sementara Al-Quran tentunya harus bersih dari unsur-unsur tersebut. Tapi menurut pendapat yang pertama, hal ini dapat disanggah dengan keberadaan ‘Alaqoh(penghubung makna). Karena dengannya tidak akan ditemui unsur kebohongan pada majas.

Salah satu contoh adanya majas didalam Al-Quran dapat kita jumpai pada ayat 19 surat Ali Imron yang berbunyi:

وَاسْئَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِى كُنَّا فِيْهَا"”

Lafadz الْقَرْيَةَ merupakan maful bih dari fiill amar اسْئَل Sehingga ayat diatas dapat kita artikan dengan:

“dan tanyalah negeri yang Kami berada disitu....” (QS.Yusuh:82)

Akan tetapi ayat diatas tidaklah mungkin kita artikan demikian(dengan mengartika الْقَرْيَة secara hakikat, yakni suatu tempat bermukim masyarakat desa) Karena bagaimana mungkin kita dapat bertanya pada suatu tempat? Dan bagaimana bisa suatu tempat menjawab pertanyan yang kita berikan?

Oleh karenanya tidak cocoknya penggunaan hakikat afadz الْقَرْيَة disini. Maka makna majas menggantikan makna hakikat. Sehingga makna sejati ayat diatas adalah

“Dan tanyalah (penduduk) negeri yang Kami berada disitu....”(QS.Yusuh:82)

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan peralihan makna hakikat kepada makna majas. Antara lain karena makna hakikat dianggap berap pengucapannya, kuran enak didengar, lafadz hakikat jarang diketahui, demi penikangkatan unsur sastra dan balaghah, atau masyhurnya majas dan masih banyak lagi.

Kesimpulannya, eksistensi majas dalam Al-Quran merupakan hal yang penting diperhatikan sertya menjadi syarat mutlak bagi seorang mujtahid untuk benar-benar memahaminya. Karena tanpanya proses istinbat hukum dari teks-tek yurisprudensi islam(Al-Quran dan Sunnah) akan sukar unutk dilakukan. Selain juga untuk menghindari keslah pahaman dalam memahami firman-Nya. Sebagaimana Umat Nasrani yang terjerumus dalam pensucian Nabi Isa sebagai Tuhan atau perwujudan-Nya didunia. Hal ini tak lain sebab pemahaman mentah-mentah mereka dalam melahap kitab sucinya tanpa melakukan takwil terhadap ayat-ayat yang irasional. Fa’tabiru..!